Minggu, 28 Juli 2013

Gambal-Gimbal-Gumbal-Gembal-Gombal

Ekspedisi Mencari Cewek Idaman”
Gagak Sandoro

Judul : Ekspedisi Mencari Cewek Idaman
Penulis : Dyah Ayu Kinanti, dkk.
Penerbit : DIVA Press
Tahun terbit : Juli 2012
Tebal: 219 Halaman

Tidak ada data yang jelas darimana asal muasal gombalan lahir hingga akhirnya menyebar di kalangan masyarakat. Namun, gombalan beberapa tahun terakhir dipopulerkan oleh seorang komedian pada salah satu acara di stasiun TV swasta, “Bapak kamu …?” merupakan gombalan  yang sering diungkapkan olehnya.

Ekspedisi Mencari Cewek Idaman merupakan sebuah kolase yang tidak saling berkaitan namun memiliki satu tema yang sama, yaitu; Gombal-lebay. Kumpulan cerpen ini hasil dari penjaringan lomba dengan tema yang sama oleh penerbit DIVA Press. Berisi lima belas cerpen yang menggelitik, berbahasa ringan, sudut pandang yang variatif yang ditulis dari berbagai kalangan.

Lima belas karya dari lima belas penulis baik baru memulai sampai penulis yang telah menyebarkan karya-karyanya ke pelbagai media. Mereka berkumpul, menyatukan sebuah karya untuk memberikan sisi lain tentang cerita cinta dengan gayanya sendiri.

'Ekspedisi Mencari Cewek Idaman' adalah cerita pembuka yang sekaligus sebagai judul kumpulan cerpen ini. Diceritakan perjuangan toying untuk menemukan tulang rusuknya yang lain. Mencari perempuan yang akan menjadi pacarnya. Menjadi pendampingnya dengan cara-caranya sendiri yang pantang untuk berhenti begitu saja.

Berlainan dengan cerita gombal lainnya, 'The Gombalnator' yang ditulis oleh Jacob Julian, pengarang yang tidak begitu asing lagi karena cerpen bergaya serupa kerapkali hadir di kumpulan cerpen ataupun media serta beberapa novelnya pun telah terbit dan tersebar di seluruh toko buku. 'The Gombalnator' menceritakan Joni seorang penggombal ulung yang ingin meluluhlantakan hati setiap cewek di SMA Bumi Pertiwi. Di akhir cerita pengarang mencoba memberikan shock ending, berikut petikannya dialognya, “Gue enggak suka sama cowok. Maaf, ya,” kata Astrid sambil berlalu. (Hal. 61)

Cerita lain juga tak kalah menarik sebut saja cerpen yang berjudul 'Paijo Si Pejuang Cinta' karya Nor Aini Rachmawati seorang mahasiswi fakultas ekonomi di Universitas Airlangga Surabaya yang tentu saja bertolak belakang dengan dunia kepenulisan. Pada opening cerita dia memberikan sebuah kejutan yang akan membuat anda untuk menyelesaikan hingga titik terakhir.

Keunikan karya fiksi memungkinan hal-hal yang tidak di luar logika. Bersifat liar dan tergantung bagaimana pengeksekusian dari pengarang sendiri untuk karyanya itu. Cerita yang dengan imajinasi liar dalam kumpulan cerpen ini terdapat pada judul 'Indonesia Menggombal' karangan dari @ksathriya. “Sebagai aktivis, si Kesatria Gombal ini dengan mudah menghimpuan massa. Tidak hanya ribuan mahasiswa. Ratusan pekerja kantoran, pegawai pemerintah, termasuk ibu-ibu tukang sayur juga ikut dalam demonstrasi gombal ini.” (hal. 172)

Membaca Ekspedisi Mencari Cewek Idaman akan memberikan sebuah pengertian, tidak perlu hal besar untuk membuat sesuatu yang luar biasa. Berawal dari tema 'Gombal-Lebay' kelima belas penulis dalam kumpulan cerpen ini akan membuat kita tertawa lepas dan terhibur.

Kumpulan cerpen ini juga sangat disarankan untuk para jombloan-jomblowati yang ingin mendekati pasangannya namun terlalu sulit untuk mengungkapnnya. Di dalam buku ini kita akan diberikan banyak rayuan gombal dan silakan anda pilih sendiri versi semacam apa yang cocok dan anda praktikan sendiri.


GS Juli 2013

Sabtu, 20 Juli 2013

Sesuatu Dihari Minggu

Gagak Sandoro

Aku pernah ke tempat ini sebelumnya. Berulang kali aku ke tempat ini, berulang kali pula ada sebuah rasa sakit. Mungkin seperti tusukan di perut. Seingatku, jalan ini pernah berhasil membuatku ingin menangis. Tapi bukan tangisan yang penuh dengan derai air mata. Hanya sebuah perasaan yang tak terbendung dalam jiwa. Nafasku mendadak memburu. Tersengal. Putus-putus. Berkali-kali kucoba bertahan untuk menahan tangisan itu dengan menggigit bibir bawahku. Nihil, itu hasilnya. Meski demikian aku tetap memaksakan untuk tetap datang ke tempat ini.

Waktu itu, kausedang memakai kaos berwarna merah dan celana jeans pendek. Duduk di bawah pohon rindang dengan sisa hujan yang turun semalam. Dalam suasana seperti ini, hal yang kuinginkan adalah hujan kembali turun, agar aku bisa mengenakannya jaket atau merangkul pundaknya, seperti film roman yang sering kutonton. Tapi khayalan itu tidak terjadi. Mungkin saja saat ini Tuhan tidak sedang dipihakku. Malahan kauberlari-berlari dengan sekumpulan anak kecil yang kebetulan bermain ke tempat ini, membiarkan aku di sini—sisi sudut yang tak pernah kaulihat
.
Rambut yang semula terkuncir satu di belakang, kini kaumelepaskan kuncir berwarna merah itu. Membiarkan rambutmu yang bergelombang ikut meliuk-liuk atau beterbangan saat kausedang berlari mengejar anak-anak kecil itu.

Mungkin dengan mendekatimu yang sedang bermain, kaubisa mengajakku. Namun, kau tetap bergeming. Sekali kauberhenti untuk melihatku dengan tatapan hambar, kemudian kembali berlari dengan anak kecil itu, membiarkan aku sendiri di tempat ini. Sama seperti sekarang.

Apa kabar perempuan itu? Pertanyaan semacam ini kerapkali muncul dan menyesaki pikiranku. Kadang saat aku mengerjakan pekerjaan, sedang makan atau saat tidur sekali pun. Pertanyaan ini tidak pernah mau berkompromi kalau aku juga ingin merasakan suatu kebebasan. Aku tidak ingin ada beban. Sudah berbagai macam cara diperbuat untuk mengalihkan pertanyaan ini dibenakku. Tapi dadaku terasa sesak. Nafasku menjadi satu-satu. Limbung. Pertanyaan ini seperti mencekikku. Well, aku membiarkan pertanyaan itu terus datang dan hidup dalam otakku.

Kali ini, kuprogram sensor motorikku untuk melangkah perlahan. Agar semua kenangan di setiap jengkal tanah yang telah kulewati sore ini dapat terhisap di telapak kakiku: indah atau pun buruk.

Dalam perjalanan di jalan setapak itu, aku harap menemukan kembali perasaan seperti dulu. Bukan seperti sekarang. Karena, aku benci dengan keadaanku yang seperti ini. Sangat benci. Kuhidup dalam bayangan masa lalu. Terutama bayangan tentangmu. Perasaan seperti ini bukan hanya sekadar akibat dari rasa suka atau kagum. Ini empati. Empati yang tak terbalas. Rasa yang tak bertuan. Ah ....

Di hari Minggu pukul tujuh, kau selalu membawa buku cerita untuk membacanya di puncak bukit, di bawah pohon cemara udang yang rindang serta tinggi menjulang. Di tempat kaududuk pula ada sebuah makam kecil tentang masa lalumu. Masa lalumu yang membuat aku cemburu. Cemburu pada orang yang telah mati tapi berhasil hidup di benak jiwamu. Mantannya ada di mata perempuan itu. Nafasnya, senyumnya, tutur katanya, hingga yang tersisa untukku adalah puing-puing harapan.

Kauangkat wajahmu. Sedetik kita bertatap mata dari jaraknya yang jauh dari tempatku berdiri. Tapi aku tahu kau menatapku untuk segera pergi. Pandangan di matanya mengartikan aku tidak boleh memerhatikannya. Karena dia ingin sendiri. Menikmati semua kenangan bersama mantannya di bawah pohon.

Aku mundur perlahan. Melangkah satu-satu sembari berdoa kalau saja perempuan yang duduk di sana dibuat lupa hingatan oleh Tuhan. Kumembalikan badan dan menuju dipan rumah kita. Kembali membaca koran dan menyesap kopi yang kaubuatkan untukku tadi.

Kalau biasanya kuselalu meminum kopi panas, tapi sekarang kopi itu kubiarkan dingin terlebih dulu. Layaknya hatiku yang dibiarkan dingin oleh perempuan itu. Hambar. Atau apa saja nama yang pas untuk keadaanku sekarang ini.

Pandangan mata ini masih berada di bibir cangkir kopi yang telah dingin. Membayangkan wajahnya yang berada di kopi pekat itu. Dia tersenyum untukku. Membacakan sebuah buku cerita dan sesekali dia bersandar di pundakku. Mungkin saja ini akan terasa indah. Tapi apa hal seperti ini akan terjadi? Kurasa tidak. Lama kutepekur di bibir cangkir, aku terlonjak dengan sebuah tangan yang menepam tangan kiriku. Sembari mengatur napas, aku menundukan wajahku. Aku tahu kalau kau sedang memperhatikanku tapi itu hanya sebentar saja karena setelah itu kau pun mengarahkan pandangan ke arah puncak bukit.

Kucoba untuk menekuri bibir cangkir kembali, sambil menunggu kesempatan kaumemalingkan wajahmu ke arahku, seperti tadi. Lama aku menunggu kesempatan yang tidak kunjung datang, kumenapak-nepakan lengan kursi dengan jari telunjuk dan tengah agar dia memalingkan pandangannya padaku. Namun, sia-sia juga yang telah aku lakukan. Lehermu seperti terbuat dari besi. Kaku. Bahkan untuk memalingkan ke arahku.
****
Saat sampai di rumah, kaulangsung masuk dan menyalakan lampu di balkon. Kau tidak bicara untuk menyegarakanku masuk. Lima langkah dari teras rumah, disitulah aku berdiri. Berdiri mengharap perhatian kecil yang tak kunjung aku dapat. Kumenundukan pandangan sembari menahan gejolak perasaan yang terasa. Aku tahu, kau sedang berdiri di daun pintu memerhatikan hujan yang segera turun. Matamu itu tidak sekali pun melihatku. Sekelebat kilat dan petir nyaris bersamaan dengan tanganmu menutup wajahmu. Kau kembali masuk ke dalam rumah lalu menutup pintu. Cepat sekali reaksimu tanpa memerhatikan aku yang sedang ada di depanmu.

”Apa kamu tidak melihatku? Apa terlalu sulit untuk memanggil namaku?” desisku bersama dengan tetes pertama turunnya hujan.

Aku terbayang dengan bibir merah mudamu itu. Di bibir itu seperti ada kunci abadi yang tak bisa terbuka oleh apapun terhadapku. Bahkan, saat kau mengucap janji suci kita. Aku dan perempuan yang berada di dalam rumah. Bibirmu tidak bergerak. Aku seperti bermonolog kala itu. Sebenarnya rumah ini adalah rumah kita. Tapi, entah, di sini aku seperti berada di hutan. Sepi. Mencekam.

Air yang turun dari langit semakin deras. Dengan gemuruh petir dan kilat memaksaku untuk segera pergi. Aku mengenakan jaket yang pernah kusiapkan untukmu. Untuk menghangatkanmu. Untuk kaupeluk. Untuk menemanimu saat pergi ke puncak bukit. Jaket ini kukenakan dengan erat. Erat sekali.

Lidahku menjilat air yang turun dari hidung. Entah air yang kujilati itu air hujan atau air mata. Yang pasti ini terasa asin. Aku menerpa hujan angin yang membuat kendali sepeda motorku limbung. Dalam keadaan seperti ini, aku ingin tahu selama aku berada di sisi perempuan itu, berapa banyak yang kutahu tentang dirinya. Aku menghentikan motor pada sebuah persimpangan. Lampu merah. Di sisi kiri-kananku terlihat orang-orang yang penuh dengan pikiran masing-masing. Apa salah satu dari mereka berpikir mengapa ada perempuan yang begitu dingin. Mataku menatap lampu tiga warna itu tanpa tuju.

GS Juli 2013
           


Jumat, 19 Juli 2013

Paradigma



“Lelaki yang Terus Mencari Sumbi”
Gagak Sandoro
Judul : Lelaki yang Terus Mencari Sumbi
Pengarang : Hermawan Aksan
Penerbit : Indie Book Corner
Jumlah Halaman : 138 halaman
ISBN : 978-602-9149-42-5


Hermawan Aksan, pria yang pernah mengenyam pendidikan di Institut Teknologi Bandung dan sekarang menjadi penjaga gawang (red: redaktur) di halaman sastra Tribun Jabar. Pria yang telah menjadi Tuhan bagi setiap karangannya ini, kumpulan cerpen 'Lelaki yang Terus Mencari Sumbi'. Kumcer ini berisikan tujuh belas cerpen yang pernah dimuat di media massa dalam kurun waktu 90-2000-an.

Diawal-awal judul dalam kumpulan cerpen ini, pengarang diibaratkan sebuah dalang yang menceritakan sebuah lakon beberapa kejadian di dunia ini. Lihat saja, pada cerpennya yang berjudul 'Yang Sakti Mandraguna' tengah menceritakan tokoh lelaki bernama Dasmin yang tergila-gila pada tokoh wayang Gatotkaca setelah ia menonton pagelaran wayang golek. Hermawan Aksan menuliskan sebuah kejujuran dalam cerita ini, tokoh Dasmin begitu empatik dan mempunyai kepercayaan lebih pada kekuatan benda mati – dalam cerita ini wayang golek Gatotkaca. Yang ajaibnya, terdapat banyak sekali seseorang yang seperti Dasmin, khususnya di negara ini.

'Lelaki yang Terus Mencari Sumbi' memang sebuah kumpulan cerita pendek yang tidak berkaitan di setiap cerita. Namun, ada beberapa judul yang mempunyai kemiripan cerita, yaitu; 'Candi', 'Candi Citoke' dan 'Embah Wirasuta'. Ketiga judul tersebut mempunyai cerita yang sederhana tentang dogma-dogma yang telah hinggap di masyarakat kita. Hermawan Aksan dengan piawai memainkan setiap tokohnya yang sederhana dan sedikit ambisius. Penulis juga tidak melupakan unsur cerita berupa  amanat, Hermawan Aksan menyiratkan amanat pada setiap judul di dalam kumpulan cerpen ini. Sebagai pembaca kita harus bisa menggali sendiri tujuan yang telah dilampirkan oleh penulis.

'Bus kota tak begitu penuh, mungkin hanya terisi setengahnya, ketika dua orang lelaki berpenampilan seram naik lewat pintu depan di halte Cibeunying. Yang pertama, mengenakan jaket hitam, lebih dulu menghampiri kursiku, yang memang kosong.' (Hal. 43) demikian kutipan di paragraf pertama cerpen berjudul 'Dua Lelaki di Bus Kota'. Cerita yang dimuat pada satu media massa pada tahun 2000 ini menceritakan tokoh aku yang tengah dilanda konflik batin di sebuah bus kota. Kemungkinan Hermawan Aksan mempunyai alasan tertentu ketika menuliskan cerita ini. Saat membacanya, kita akan merasakan ketakutan yang dilanda tokoh aku, mempunyai pikiran serta firasat buruk serta menyimpulkan kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja terjadi setelahnya. Dalam judul ini, penulis sengaja memberikan ritme cepat agar cerita tidak terkesan kaku dan monoton. 

Berbeda dengan judul-judul awal, penulis diibaratkan mendalang lakon tertentu. Beberapa judul cerita di akhir kumpulan cerita ini, Hermawan Aksan seperti bercerita pada koleganya di sebuah restoran. Mempunyai tempo lambat, berdiksi halus serta lembut dan lebih banyak alur mundur. Salah satunya cerita yang dijadikan judul kumpulan cerpen ini, Lelaki yang Terus Mencari Sumbi. Cerpen yang begitu lembut, penuh perasaan dan mengulang sejarah yang tidak pernah selesai.

“Sunyi dini hari retak oleh telapak sepatunya yang berkeletak memukul-mukul lapisan beton gang kompleks perumahan. Seakan muncul dari tempat yang entah, mula-mula lirih, seperti ketukan ujung kuku di tembok batu. Makin lama makin nyaring, mengingatkanku pada ladam yang menghantam-hantam aspal.” (hal 91)

Lelaki yang Terus Mencari Sumbi menyuguhkan dua hidangan yang berbeda. Pada judul awal, pembaca akan dipaksa membuka mata tentang sebuah kepercayaan turun-temurun. Namun di beberapa judul terakhir, penulis akan menanamkan sebuah cerita 'sebelum tidur' untuk dipikirkan serta dipikirkan kembali.


GS Juli 2013

Sabtu, 13 Juli 2013

Gemerlap Selalu Ada di Hatimu


“Kira-Kira”
Gagak Sandoro
Judul : Kira-Kira
Penulis : Cynthia Kadohata
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama (GPU)
Halaman : 200 halaman
ISBN : 978-979-22-4307-9

“Kakakku, Lynn, mengajariku kata pertamaku: kira-kira. Aku mengucapkannya ka-a-ahhh, tapi ia tahu maksudku.” (hal. 9) itulah petikan yang kemudian saya ambil dari novel Kira-kira. Dalam bahasa Jepang kira-kira berarti gemerlap, maka, saya memberikan judul ‘Gemerlap Selalu Ada di Hatimu’ untuk resensi kali ini.

Selasa, 09 Juli 2013

Memanusiakan Teknologi


Teknologi. Entah berapa artikel yang tertulis dan jutaan hasil copy paste sejagat google ini. Teknologi semakin berkembang seperti kebutuhan primer manusia itu sendiri. Saya enggak akan membicarakan tentang apa itu teknologi, asal dan muasal atau tetek bengeknya segala macam.

Sabtu, 06 Juli 2013

Lebih Ringan Dari Sekaleng Minuman


“Date Note”
Gagak Sandoro
Judul Buku : Date Note
Penulis : Haris Firmansyah
Jumlah Halaman : viii+180 halaman
Tahun terbit : Februari 2012
Penerbit : Bentang Belia
ISBN : 978-602-9397-09-3

Anggap saja saat membaca buku ini, kita sedang menikmati sekaleng minuman ringan. Ya, karena perasaan seperti itulah yang mungkin saja dihadirkan dari penulis bagi pembacanya. Perasaan sekali teguk yang begitu segar, menenangkan, dan melepaskan haus yang tersisa. Perasaan segar dari cinta-cinta gila masa lalu penulis, Haris Firmansyah.

Jumat, 28 Juni 2013

Kegelapan Yang Tersimpan di Dalam Hatimu

Larutan Senja”
Gagak Sandoro

Judul Buku: Larutan Senja
Pengarang: Ratih Kumala
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (GPU)
Halaman: v+145 halamanISBN: 979-22-2029-1
Tahun Terbit: Maret 2006

Saat berbicara tentang sebuah keburukan, kebelengguan, keberanian ataupun ketidakberanian sekalipun seseorang masih berada di dalam dimensi warna yang sama. Abu-abu. Bukan hitam, apalagi putih. Itulah kesan yang ditonjolkan dalam kumpulan cerpen ini.

Gambar diambil dari google
Sebagai pembaca kita langsung disuguhkan sebuah cerita pertama yang kelam, 'Sang Paradji', kisah yang menceritakan dukun beranak bernama Paradji yang dituduh menyantet suami Nastiti. Berikut cuplikan cerita pertama dalam buku ini, “Mereka bersorak laksana pesta, menjadikan siksaan sebagai kesenangan. Paradji tersungkur, kepalanya dipaksa mencium tanah. Lehernya diinjak hingga tersedak. Rambutnya yang putih dan panjang ditarik. Ia sebenarnya hanya nenek tua yang renta.” (hal. 2)

Ketika kita telah berada di titik akhir cerita pertama dalam buku ini, 'Sang Paradji', akan terbekas ketakutan Nastiti dalam benak kita atas sumpah yang diucapkan Paradji sebelum ia mati dihunus pisau. “Nastiti seperti terikat, ia tidak bisa berbuat apa-apa. Seluruh tubuhnya mati rasa, tak bisa digerakkan … Nastiti sempat melihat tanda merah di dada Dasih.”(Hal. 8)

Entah bagaimana seorang perempuan bernama Ratih Kumala bisa bercerita dalam dua ruang yang berbeda, maksudnya, Ratih Kumala bisa menjadi pencerita yang maskulin dalam cerita berjudul 'Tahi Lalat di Punggung Istriku' dan 'Gin-Gin dari Singaraja'. Berbeda dengan cerita berjudul 'Anakku Terbang Laksana Burung' yang begitu feminim dan keibuan. Berikut cuplikan paragraf yang diambil dari cerita 'Anakku Terbang Laksana Burung', “Aku tahu, dengan nalarku sebagai seorang perempuan sekaligus seorang ibu, bahwa tubuhku telah menjadi dua. Ada benih yang telah dititipkan kepadaku, dan aku memeliharanya dalam rahimku, mengubahnya menjadi sarang serupa burung dalam peluk kasih sayang induk.” (hal. 108)

Dalam kumpulan cerpen ini, Ratih Kumala yang bertindak sebagai Tuhan bagi alur cerita yang ia buat  memberikan sebuah lukisan kehidupan pada pembaca. Yang terkadang, lukisan itu tergambar dengan jelas di sekitar kita. Bahkan di kanan-kiri kita. Cerita itu berjudul: 'Wanita Berwajah Penyok'. Berjudul nyentrik namun tidak senyentrik isi ceritanya. Saat membacanya, kita akan membayangkan sebuah perempuan disabilitas yang terpasung pada ruang sempit yang tak bisa disebut manusiawi tepat berada di depan kita. Amat menyedihkan. Setiap malam, ia selalu menunggu rembulan dari celah bilik tempat ia dipasung.

Ada hal yang berbeda, saat kita – sebagai pembaca – memperhatikan setiap dialog yang berada dalam buku ini. Tanda kutip dua yang menandakan dialog itu kesemuanya menghadap keluar. Kita ambil contoh pada halaman 70,
”Benar Adik bertemu Kadek di bis?” tanyanya.
Saya tidak berasumsi kalau ini adalah sebuah kesalahan tanda baca yang luput di eksekusi oleh editor, namun kesengajaan Ratih Kumala sebagai penulisnya sendiri karena hampir keseluruhan mengalami hal yang sama. Tapi masalah terjadi lagi di cerita berjudul 'Pada Sebuah Gang Buntu' dibagian epilog tanda kutip dua tertulis dengan benar, menimbulkan kesan ketidakkonsisten sang pengarang.

Hal yang menarik dalam kumpulan cerita ini terdapat gambar ilustrasi di setiap cerita. Memberikan  kesan pertama sebelum benar-benar dihadapkan pada cerita yang sebenarnya.s
Terakhir, Ratih Kumala mampu mengantarkan imajinasi liarnya pada pembaca. Membuka sebuaah dunia baru miliknya yang tak pernah dipikirkan oleh pengarang lain melalui kumpulan cerpen ini.

GS Juni 2013


Rabu, 12 Juni 2013

KISAH KELAM YANG MURAM


Gagak Sandoro












Judul Buku      : Kisah Muram Di Restoran Cepat Saji
Penulis             : Bamby Cahyadi
Halaman          : 152 Halaman
Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama (GPU)
Tahun terbit     : Cetakan pertama, Desember 2012
ISBN               : 978-979-22-9080-6

“Nama tokoh dalam cerita ini, Adimas. Seorang pemuda berwajah tampan, tapi berkantong tipis. Ia, telah dua tahun bekerja sebagai kasir di restoran cepat saji jaringan internasional ini. Semula ia masuk sebagai karyawan magang. Nyambi kerja sambil kuliah, agar terlihat keren di mata teman-teman kampusnya.” (hal 41) demikian kutipan cerita yang dijadikan judul dalam kumpulan cerpen ini.
Bamby Cahyadi saya ibaratkan sebagai seorang koki restoran yang kerap mendapatkan hujatan pun pujian dari setiap masakan yang ia buat, termasuk dalam kumpulan cerita ini berkisah tentang kemuraman dan kesenangan dari setiap tokoh rekaan yang ia buat. Entah sengaja atau tidak, kesemua cerita ini begitu realis dan bisa terjadi di antara kita semua. Sungguh sangat berlainan dengan koleganya, Sungging Raga, yang di mana Sungging Raga mempunyai aliran surealis pada setiap cerita yang ia buat.
Namun, ada sesuatu yang berbeda yang ditonjolkan dalam kumpulan cerita ini. Sisi muram, kegelisahan, kesedihan, kegamangan di setiap judul cerita di dalamnya. Salah satunya cerita pertama yang tersuguhkan dalam kumpulan cerpen ini, menceritakan tentang sepasang suami-istri yang menyesal tidak memperbaiki boneka bayi kesayangan anaknya. Mereka menyesal tidak memperbaiki boneka anak satu-satunya sebelum ia pergi ke dimensi yang berbeda. Suami dan istri ini selalu merasakan kegamangan dan kesendirian setiap harinya. Berikut adalah petikan ceritanya, “Istriku sedang duduk termenung di kursi teras sambil memeluk boneka kesayangan Riri. Begitulah pekerjaannya tiap petang. Lantas aku bergabung dengannya, duduk-duduk melamun mengenang Riri sambil berlinang-linang air mata, aku pun menangis bersama istriku.” (hal. 1)
Cerita yang berjudul ‘Aku Bercerita dari Pesawat yang Sedang Terbang’ serta ‘Tentang Mayat yang Sedang Tersenyum’ merupakan dua cerita yang masih saling berelasi. Menceritakan Ayahnya yang mati karena tokoh utama terlambat pulang sekolah.
‘Angka Sepuluh’ cerita kesembilan yang tersuguhkan dalam kumpulan cerita ini mengantarkan pembaca untuk melihat sebuah cermin kehidupan pengacara kaya yang menyukai angka 9. Cerita ini begitu singkat namun mengalir apik dengan keserhanaan diksi yang Bamby Cahyadi buat.
Cerita lain yang sangat menggelitik berada pada judul ‘Obsesi’ menyajikan kisah Awang Darmawan, siswa pintar dan aktif namun berobsesi untuk menjadi koruptor. “Seperti juga teman-temanku, yang bercita-cita menjadi dokter, insinyur, polisi, tentara, wartawan atau bahkan presiden. Mereka belajar dengan giat agar cita-citanya tercapai. Begitu pun denganku.” Merupakan salah satu petikan yang akan membuat Anda ingin menyelesaikan cerita ini hingga titik terakhir.
Terakhir, kumpulan cerpen yang berisi 15 cerita yang mengajarkan kita kesederhanaan tokoh rekaan setiap cerita ini patut untuk menjadi daftar bacaan Anda. Dengan harapan, agar pembaca tidak mengalami perbuatan yang sama dengan cerita yang berada di dalam cerita ini.


GS Juni 2013

Jumat, 19 April 2013




Judul buku      : Blueberish
Pengarang       : Ragil FA
ISBN               : 978-602-98532-7-8
Penerbit           : Indie Book Corner
Halaman          : 147 halaman

           
“Teman itu bukan dinilai dari tangannya, tapi mengapa aku menjadikanmu seorang teman”, ya, itulah salah satu kata manis yang saya kutip pada dialog di halaman 13. Seperti logline dalam novel ini, cerita di dalamnya pun amasih berkutat dengan dunia percintaan. Namun pengarang mencoba keluar dari sudut pandang orang kebanyakan. Bagaimana kalau cinta itu muncul pada teman kita sendiri? Ya, memang bisa dan itu wajar. Tapi pertanyaan lain datang, bagaimana kalau teman sesama jenis? Ya, bisa saja.
            Tuhan menciptakan rasa cinta, kasih dan sayang hanya untuk manusia. Tugas manusia hanya menunggu cinta itu kapan datang, kapan bersemi dan akhirnya kapan hilang kembali. Tuhan menciptakan cinta secara utuh. Namun, tidak setiap manusia untuk bisa mendapatkannya.
            Itulah yang terjadi pada alur cerita di dalamnya. Saat membaca novel ini, kita akan disuguhkan pada bahasa indah, puitis dan membuai. Namun, dari situ pula kelemahan datang. Dengan adanya bahasa yang indah dengan segala perumpaan yang ada, kita kerapkali dibuat mengerutkan kening. Atau bisa saja mengulangi bacaan beberapa kali untuk bisa mengerti apa maksud dari kalimat yang disampaikan sang pengarang.
            Setting yang terjadi pada novel ini terdapat di sebuah pesantren. Asumsi saya, pengarang masih belum mendalami dunia kepesantrenan atau masih mengalami riset yang terkesan “mentah”. Kenapa saya berkata demikian, dalam beberapa bab, setting yang terjadi seperti sebuah tempelan. Saya pernah berpikir kalau setting itu diubah menjadi sebuah sekolah, masjid, langgar atau pun rumah sekali pun tidak  akan mengalami perubahan yang berarti. Pembaca masih mengerti tujuan dari novel ini.
            Bagaimana dengan masalah konflik? Sama halnya setting. Konflik di sini terlalu memblur. Tidak ada konflik yang memuncak. Di novel ini hanya terdapat konflik batin pada setiap tokoh. Membuat pembaca seperti melihat adegan yang terpotong. Itu saja.
            Menurut saya, kekurangan yang begitu mencolok adalah sudut pandang pencerita. Di satu bab, pengarang menuliskan POV ke-1. Namun di bab yang lain pengarang membuat POV menjadi ke-3. Memang hal itu sah-sah saja tapi memasukan dua sudut pandang pencerita yang berbeda dalam satu karangan butuh keahlian khusus. Kekurangan kedua berada di karakter setiap tokohnya yang masih terlihat begitu lemah. Menurut pertimbangan saya unsur kausalitas(sebab-akibat) masih di abaikan dalam novel ini. Perubahan karakter setiap tokoh terjadi begitu dinamis dan terkesan cepat. Satu hal lagi, mungkin karena dampak perubahan POV pada setiap bab, kita akan dibuat lupa mengenali tokoh-tokohnya.
            Well, berkenaan masalah amanat, novel ini banyak sekali amanat tersirat tentang cinta yang universal. Cinta yang terkadang di luar logika manusia. Dan untuk para pembaca yang ingin menambah kosa kata dapat membaca novel ini dengan segala perumpaan yang dituturkan secara manis. Atau ingin membuat suasana cerita dengan literer di sini terdapat beberapa contoh yang bisa di pelajari. Itu.
18 April 2013.