Jumat, 19 Juli 2013

Paradigma



“Lelaki yang Terus Mencari Sumbi”
Gagak Sandoro
Judul : Lelaki yang Terus Mencari Sumbi
Pengarang : Hermawan Aksan
Penerbit : Indie Book Corner
Jumlah Halaman : 138 halaman
ISBN : 978-602-9149-42-5


Hermawan Aksan, pria yang pernah mengenyam pendidikan di Institut Teknologi Bandung dan sekarang menjadi penjaga gawang (red: redaktur) di halaman sastra Tribun Jabar. Pria yang telah menjadi Tuhan bagi setiap karangannya ini, kumpulan cerpen 'Lelaki yang Terus Mencari Sumbi'. Kumcer ini berisikan tujuh belas cerpen yang pernah dimuat di media massa dalam kurun waktu 90-2000-an.

Diawal-awal judul dalam kumpulan cerpen ini, pengarang diibaratkan sebuah dalang yang menceritakan sebuah lakon beberapa kejadian di dunia ini. Lihat saja, pada cerpennya yang berjudul 'Yang Sakti Mandraguna' tengah menceritakan tokoh lelaki bernama Dasmin yang tergila-gila pada tokoh wayang Gatotkaca setelah ia menonton pagelaran wayang golek. Hermawan Aksan menuliskan sebuah kejujuran dalam cerita ini, tokoh Dasmin begitu empatik dan mempunyai kepercayaan lebih pada kekuatan benda mati – dalam cerita ini wayang golek Gatotkaca. Yang ajaibnya, terdapat banyak sekali seseorang yang seperti Dasmin, khususnya di negara ini.

'Lelaki yang Terus Mencari Sumbi' memang sebuah kumpulan cerita pendek yang tidak berkaitan di setiap cerita. Namun, ada beberapa judul yang mempunyai kemiripan cerita, yaitu; 'Candi', 'Candi Citoke' dan 'Embah Wirasuta'. Ketiga judul tersebut mempunyai cerita yang sederhana tentang dogma-dogma yang telah hinggap di masyarakat kita. Hermawan Aksan dengan piawai memainkan setiap tokohnya yang sederhana dan sedikit ambisius. Penulis juga tidak melupakan unsur cerita berupa  amanat, Hermawan Aksan menyiratkan amanat pada setiap judul di dalam kumpulan cerpen ini. Sebagai pembaca kita harus bisa menggali sendiri tujuan yang telah dilampirkan oleh penulis.

'Bus kota tak begitu penuh, mungkin hanya terisi setengahnya, ketika dua orang lelaki berpenampilan seram naik lewat pintu depan di halte Cibeunying. Yang pertama, mengenakan jaket hitam, lebih dulu menghampiri kursiku, yang memang kosong.' (Hal. 43) demikian kutipan di paragraf pertama cerpen berjudul 'Dua Lelaki di Bus Kota'. Cerita yang dimuat pada satu media massa pada tahun 2000 ini menceritakan tokoh aku yang tengah dilanda konflik batin di sebuah bus kota. Kemungkinan Hermawan Aksan mempunyai alasan tertentu ketika menuliskan cerita ini. Saat membacanya, kita akan merasakan ketakutan yang dilanda tokoh aku, mempunyai pikiran serta firasat buruk serta menyimpulkan kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja terjadi setelahnya. Dalam judul ini, penulis sengaja memberikan ritme cepat agar cerita tidak terkesan kaku dan monoton. 

Berbeda dengan judul-judul awal, penulis diibaratkan mendalang lakon tertentu. Beberapa judul cerita di akhir kumpulan cerita ini, Hermawan Aksan seperti bercerita pada koleganya di sebuah restoran. Mempunyai tempo lambat, berdiksi halus serta lembut dan lebih banyak alur mundur. Salah satunya cerita yang dijadikan judul kumpulan cerpen ini, Lelaki yang Terus Mencari Sumbi. Cerpen yang begitu lembut, penuh perasaan dan mengulang sejarah yang tidak pernah selesai.

“Sunyi dini hari retak oleh telapak sepatunya yang berkeletak memukul-mukul lapisan beton gang kompleks perumahan. Seakan muncul dari tempat yang entah, mula-mula lirih, seperti ketukan ujung kuku di tembok batu. Makin lama makin nyaring, mengingatkanku pada ladam yang menghantam-hantam aspal.” (hal 91)

Lelaki yang Terus Mencari Sumbi menyuguhkan dua hidangan yang berbeda. Pada judul awal, pembaca akan dipaksa membuka mata tentang sebuah kepercayaan turun-temurun. Namun di beberapa judul terakhir, penulis akan menanamkan sebuah cerita 'sebelum tidur' untuk dipikirkan serta dipikirkan kembali.


GS Juli 2013

2 komentar: