Sabtu, 13 Juli 2013

Gemerlap Selalu Ada di Hatimu


“Kira-Kira”
Gagak Sandoro
Judul : Kira-Kira
Penulis : Cynthia Kadohata
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama (GPU)
Halaman : 200 halaman
ISBN : 978-979-22-4307-9

“Kakakku, Lynn, mengajariku kata pertamaku: kira-kira. Aku mengucapkannya ka-a-ahhh, tapi ia tahu maksudku.” (hal. 9) itulah petikan yang kemudian saya ambil dari novel Kira-kira. Dalam bahasa Jepang kira-kira berarti gemerlap, maka, saya memberikan judul ‘Gemerlap Selalu Ada di Hatimu’ untuk resensi kali ini.

Katie lahir di Iowa dan teman terdekatnya adalah Lynn, kakaknya sendiri. Mereka adalah keturunan jepang yang lahir di Iowa namun besar di Georgia. Di Georgia pula dimulainya kisah mereka, Katie dan Lynn. Cerita tentang persahabatan, persaudaraan, rasa kasih dan empati yang akan diajarkan oleh Dad, Mom, Lynn, Katie maupun Sammy.
Katie beranggapan bahwa Lynn adalah yang terpandai dan mengetahui segalanya. Dia ingin seperti kakaknya yang selalu mendapatkan nilai A pada setiap mata pelajaran. Namun sebaliknya, Lynn menganggap adiknya adalah ciptaan Tuhan yang sempurna. Dan dia sebagai kakaknya patut untuk menjaga adiknya itu.
“Ia bilang kami akan jadi kaya dan membelikan orangtua kami tujuh rumah.” (Hal. 13) Katie selalu percaya pada ucapan Lynn. Katie meyakini kalau yang diucapkan Lynn selalu benar dan patut untuk diikuti. Begitu juga Katie percaya dengan harapannya untuk membelikan orangtuanya tujuh rumah. Itu adalah harapan mereka. Namun, keduanya juga mempunyai keinginan sendiri seperti Lynn yang mempunyai keinginan untuk punya rumah di pinggir pantai California, sedangkan Katie mempunyai keinginan apa yang diinginkan Lynn   merupakan keinginannya juga. Sesederhana itu.
Novel Kira-kira lebih mirip dan layak dikatakan sebagai buku harian dari tokoh utama, Katie. Pendapat ini didukung dengan gaya bahasanya, sudut pandang pencerita dan cara menceritakan suatu kejadian. Kira-kira sama artinya dengan gemerlap, novel ini juga seperti gemerlap pada malam hari. Menenangkan. Dan memberikan rasa nyaman. Semuanya mengalir begitu saja.
Perasaan getir membaca novel ini saat sudah berada dibagian Lynn mengidap penyakit limfoma. Lynn yang cerdas dan periang berubah menjadi seseorang bermuka pucat yang cepat sekali kelelahan. “Orangtuaku tersenyum, tapi lemah. Mereka letih. Untuk membayar tagihan perawatan Lynn dan kredit rumah. Dad bekerja hampir setiap saat. Ketika di rumah, yang dipikirkankannya hanya Lynn. Seluruh kehidupan kami berpusat pada apa yang diinginkan Lynn, apa yang terbaik untuk Lynn, dan apa lagi yang bisa kami lakukan untuk Lynn.” (hal. 140)
Pembaca akan mendapatkan kebaikan-kebaikan dari setiap tokoh dalam novel ini. Diantaranya adalah ucapan Dad pada Katie karena telah merusak mobil Mr. Lyndon, “Aku tidak ingin kau takut minta maaf” (Hal. 193). Cynthia Kadohata mengakhiri kisah ini dengan kalimat sederhana. “Tapi laut segera membuatku gembira kembali. Di sini, di laut—terutama sekali di laut—aku bisa mendengar  suara kakakku seiring debur ombak: “Kira-kira! Kira-kira!”
Membaca dan menikmati Kira-kira adalah memahami sebuah kejujuran. Saat menutup sampul novel ini, kita akan merasa bersyukur telah membaca dan mengerti arti kebajikan. Dan salah satunya kebajikan yang diajarkan oleh Katie dan Lynn.
GS Juli 2013


1 komentar: