Kamis, 17 Mei 2012

FF Inspirasi-Ku SATU

Gagak Sandoro
Satu titik telah memecah keheningan yang memendam. Jauh. Hingga pada kabut yang berlarut dalam perlingan semburat. Angin laut menghembuskan pesona yang tidak ada duanya. Badanku tak sabar untuk bisa menyaksikan dengan kedua mataku yang kecil pada satu sosok keindahan yang mengangkasa. Angkasa yang turut menyisakan kenangan pada galaksi.
Goyangan lembut membelai ratusan rambut yang telah memutih kendati belum waktunya. Masih teringat satu kenangan yang tersimpan dalam kotak langit yang berpenghuni tujuh bidadari. Di angkasa sana.
“Kapan kau kembali?”
“Apa mesti harus kujawab.”
“Ya, dengan sangat.”
“Apa perlumu?”
“Tidak ada ....”
“Oh, yasudah, jika kau tidak perlu apa-apa denganku kenapa mesti menanyakan itu? Kau menyuruhku pulang. Berarti kau telah menyuruhku untuk mati. Kau mau aku mati?” itu katamu yang terdapat penekanan di akhir kalimat.
“Semua orang telah melupakan  masa lalumu. Ayolah!”
Satu percakapan singkat sebelum perempuan itu membuka pertunjukannya. Di bawah jatuhan sinar bulan yang seolah tersenyum pada kami, sudah banyak kapal yang telah merapat. Lampion dengan berbagai warna membuat relasi bintang baru di tengah laut yang surut.
“Dia mulai beraksi, Bung.” Ucap salah satu kawan yang berbeda perahu di sisi lain.
Goyangan-goyangan di laut yang begitu temaram mengiri hentakan senar kecapi yang mengalun. Rendah nada pukulan gamelan yang tidak seberapa jumlahnya, tapi tetap saja masih bisa menikmati keayuan perempuan itu. Dia menghentak-hentakan pinggulnya, tangannya membelai angin yang berdesir. Dia tersenyum. Matanya yang membintang diangkasa malam menampakan keteduhan yang keras. Aku tersenyum dalam riuh rendah tepuk tangan yang membahana. Aku membayangkan mata yang seteduh itu untukku.
“Kau hebat, Nur.”
Dia memandangku dengan lama. Lama sekali.
“Kau mau mengajakku untuk pulang? Jika iya, maka percuma saja. Karena pun kau sudah tahu  jawabannya.”
“Berikan aku satu alasan untuk tidak mengajakmu pulang?”
“Kenapa? Sebenarnya apa urusanmu selalu mengajakku untuk pulang?”
“Kau tidak kenal denganku tapi aku sangat bahkan tahu seluk belukmu tapi ....”
“Kenapa aku memilih untuk menjadi seorang penari di atas perahu?”
Aku mengangguk.
“Aku membutuhkan makan. Butuh untuk bisa mengirimkan sekaleng susu untuk anakku. Aku tahu aku pernah melakukan dosa. Toh, aku juga butuh hidup yang perlu di hargai juga.”
“Selain itu?”
“Karena aku ingin selalu merindukan bagaimana rasanya tersenyum. Kau tahu, aku lupa untuk bagaimana rasanya tersenyum puas untuk saat ini. Tapi aku tahu bagaimana caranya untuk orang lain untuk bisa tersenyum ataupun tertawa karenaku. Itu saja untuk bisa mengobati rasa sakit yang selalu aku alami. Dengan seperti inilah caranya.”
            Kepalaku mendongak, mataku menembus batas. “Perempuan ini terlalu kuat, baik atau naif,” batinku berucap.
            Kopi hangat yang kubeli di warkop tepi pantai terasa pahit di tenggorokanku. Pahit membayangkan betapa beratnya hidup saat kau tergeletak lemah dengan kepala yang telah membusuk. Tidak itu saja, seluruh tubuhmu telah terpotong-potong layaknya sate. Dan organ dalammu terbiarkan terburai. Mengapung di tengah laut. Mengayun-ayun mengikuti ritme ombak di laut yang telah memerah karena darah. Bau amis itu masih terasa saja di hidungku.
            “Bisakah kau bantu aku untuk bertemu anakku?” satu tanya terakhir sebelum hari naas itu terjadi. Siapa yang telah tega melakukan itu semua. Aku merutuk pada angkasa yang selalu menjadi saksi bisu.
           

Jumat, 11 Mei 2012

RESENSI “PROF. BRONTOSAURUS”




Judul: Prof. Brontosaurus (hari-hari seorang dokter hewan)
Pengarang: Subronto
Penerbit: Leutika
Tanggal terbit: Februari 2010
Jumlah halaman: 144
ISBN/EAN: 978-602-8597-17-3

Berisi tentang catatan perjalanan menjadi seorang dokter hewan selama kurang lebih 40 tahun. Namun, walaupun buku ini termasuk jenis non fiksi, juga melebihkan beberapa kelebihan yang di tulis oleh dosen FKH Univ. Gajah mada, Prof. Subronto.
Dengan bahasa yang tidak bikin pembaca menjadi pusing. Disertai jumlah halaman yang tidak terlalu banyak, merupakan kelebihan utama agar pembaca tidak cepat jenuh maupun bosan membaca buku ini.
Perjalanan menjadi dokter hewan di kupas dengan sangat seru. Menangani penyakit yang di derita oleh hewan di tangani dengan gamblang di tambah dengan ciri-ciri, penyebab dan foto dukumen yang ditampilkan. Menjadi terlihat membaca note kecil untuk travel.
Penulis yang merupakan guru di FKH UGM ini juga menampilkan beberapa penemuan sederhana: penyembuhan pembengkakan dengan dada srep yang cocok digunakan untuk hewan dan manusia.
Yang dikupas selain itu, juga adanya pencatuman tingkatan jika ingin kuliah di luar negeri khususnya Amerika Serikat. Memang terlihat nyeleneh dengan pencatuman pada sub judul ini. Tapi ini bukan satu-satunya, masih ada riwayat rumput raja, pidatonya saat seminar dan riwayat tentang berdirinya rumah sakit hewan yang di letakkan di halaman-halaman akhir. Pencatuman seperti ini, membuat tidak sinkron antara sub judul awal dan akhir. Juga, membuat pembaca menjadi semakin garuk-garuk kepala untuk ini.
Tidak ada gading yang tidak retak. Itulah ungkapan yang pas untuk buku ini. Dan pembaca semua yang ingin belajar sedikit ilmu kedokteran hewan bisa dengan membaca buku ini. Walaupun banyak terdapat kata-kata asing tapi pembaca yang awam tidak perlu khawatir, buku ini juga di lengkapi dengan glosrium untuk memudahkan penafsiran pembaca.


Resensi buku “... Segalanya Bagiku.”




Pengarang : Jazim Naira Chand dkk
Penerbit : Leutikabooks Publisher
Tahun terbit : Februari 2012
Jumlah halaman : x + 184 halaman
ISBN/EAN : 9786029420036

Ibu adalah sosok yang tidak ada duanya dari semua makhluk ciptaan Tuhan. Klise memang tapi itulah kenyataannya yang terjadi pada kita semua sebagai seorang anak. Anak laki-laki maupun perempuan mempunyai kedudukan sama istimewanya dari sudut pandang seorang ibu.
Dalam buku ini, tiga puluh penulis yang berbeda latar belakang, budaya, tempat tinggal dan pekerjaan. Menceritakan satu cerita yang sangat inspiratif di dunia ini yaitu Ibu kita. Kisah ibu yang di jalin secara apik dan harmonis membuat pembacanya bisa meneteskan airmata jika kedapatan kisah yang tertuang dalam buku ini sama halnya dengan kisah nyata para pembaca.
Dalam buku “... Segalanya Bagiku” juga terdapat beberapa penulis yang telah memiliki “nama” masuk ke dalam daftar kontributor. Sehingga buku ini sangat pantas untuk di nikmati denga sajian kisah yang lebih manis dan gurih  yang bisa diambil manfaatnya.  Buku yang terbentuk dari besutan salah satu grup menulis di Facebook “Untuk Sahabat” bisa membuktikan bahwa mereka yang kebanyakan penjajak baru dalam dunia kepenulisan bisa bersaing secara kualitas yang tetap di nomer satukan hingga buku ini layak- bahkan sangat layak untuk di baca ketimbang di jadikan buntelan kisah yang dibiarkan usang begitu saja.
Beberapa  kelemahan dari buku ini adalah kebanyakan penulis yang menggunakan bahasa mendayu-dayu dan sulit untuk di mengerti karena banyak majas yang di pergunakan. Sehingga tidak efisien serta cover yang kurang menarik di tambah warna kuning menyala membuat mata lelah ketika melihatnya yang menjadi titik lemah dalam buku ini. Secara keseluruhan buku ini bisa menjadi teman nostalgia teman-teman semua dengan ibunda di rumah.
Bercerita tentang ibu memang tidak ada akan ada habisnya. Karena setiap keringat, senyum, kritikan, canda dan kasih sayang seorang perempuan bergelar Ibu tidak bisa tergantikan oleh siapapun. Benar kata orang bijak mengatakan, “Ibu bisa saja menjadi bapakmu. Tapi tidak dengan sebaliknya”. Dan itulah cuman satu dari sekian banyak kehebatan supermom di dunia ini. Buku ini membuka tabir bahwa perempuan tidaklah lemah dan selalu pasrah. Kita semua pasti punya pahlawan dan pahlawan itu selalu berada di dekat kita.