Minggu, 28 Juli 2013

Gambal-Gimbal-Gumbal-Gembal-Gombal

“Ekspedisi Mencari Cewek Idaman”
Gagak Sandoro

Judul : Ekspedisi Mencari Cewek Idaman
Penulis : Dyah Ayu Kinanti, dkk.
Penerbit : DIVA Press
Tahun terbit : Juli 2012
Tebal: 219 Halaman

Tidak ada data yang jelas darimana asal muasal gombalan lahir hingga akhirnya menyebar di kalangan masyarakat. Namun, gombalan beberapa tahun terakhir dipopulerkan oleh seorang komedian pada salah satu acara di stasiun TV swasta, “Bapak kamu …?” merupakan gombalan  yang sering diungkapkan olehnya.

Ekspedisi Mencari Cewek Idaman merupakan sebuah kolase yang tidak saling berkaitan namun memiliki satu tema yang sama, yaitu; Gombal-lebay. Kumpulan cerpen ini hasil dari penjaringan lomba dengan tema yang sama oleh penerbit DIVA Press. Berisi lima belas cerpen yang menggelitik, berbahasa ringan, sudut pandang yang variatif yang ditulis dari berbagai kalangan.

Lima belas karya dari lima belas penulis baik baru memulai sampai penulis yang telah menyebarkan karya-karyanya ke pelbagai media. Mereka berkumpul, menyatukan sebuah karya untuk memberikan sisi lain tentang cerita cinta dengan gayanya sendiri.

'Ekspedisi Mencari Cewek Idaman' adalah cerita pembuka yang sekaligus sebagai judul kumpulan cerpen ini. Diceritakan perjuangan toying untuk menemukan tulang rusuknya yang lain. Mencari perempuan yang akan menjadi pacarnya. Menjadi pendampingnya dengan cara-caranya sendiri yang pantang untuk berhenti begitu saja.

Berlainan dengan cerita gombal lainnya, 'The Gombalnator' yang ditulis oleh Jacob Julian, pengarang yang tidak begitu asing lagi karena cerpen bergaya serupa kerapkali hadir di kumpulan cerpen ataupun media serta beberapa novelnya pun telah terbit dan tersebar di seluruh toko buku. 'The Gombalnator' menceritakan Joni seorang penggombal ulung yang ingin meluluhlantakan hati setiap cewek di SMA Bumi Pertiwi. Di akhir cerita pengarang mencoba memberikan shock ending, berikut petikannya dialognya, “Gue enggak suka sama cowok. Maaf, ya,” kata Astrid sambil berlalu. (Hal. 61)

Cerita lain juga tak kalah menarik sebut saja cerpen yang berjudul 'Paijo Si Pejuang Cinta' karya Nor Aini Rachmawati seorang mahasiswi fakultas ekonomi di Universitas Airlangga Surabaya yang tentu saja bertolak belakang dengan dunia kepenulisan. Pada opening cerita dia memberikan sebuah kejutan yang akan membuat anda untuk menyelesaikan hingga titik terakhir.

Keunikan karya fiksi memungkinan hal-hal yang tidak di luar logika. Bersifat liar dan tergantung bagaimana pengeksekusian dari pengarang sendiri untuk karyanya itu. Cerita yang dengan imajinasi liar dalam kumpulan cerpen ini terdapat pada judul 'Indonesia Menggombal' karangan dari @ksathriya. “Sebagai aktivis, si Kesatria Gombal ini dengan mudah menghimpuan massa. Tidak hanya ribuan mahasiswa. Ratusan pekerja kantoran, pegawai pemerintah, termasuk ibu-ibu tukang sayur juga ikut dalam demonstrasi gombal ini.” (hal. 172)

Membaca Ekspedisi Mencari Cewek Idaman akan memberikan sebuah pengertian, tidak perlu hal besar untuk membuat sesuatu yang luar biasa. Berawal dari tema 'Gombal-Lebay' kelima belas penulis dalam kumpulan cerpen ini akan membuat kita tertawa lepas dan terhibur.

Kumpulan cerpen ini juga sangat disarankan untuk para jombloan-jomblowati yang ingin mendekati pasangannya namun terlalu sulit untuk mengungkapnnya. Di dalam buku ini kita akan diberikan banyak rayuan gombal dan silakan anda pilih sendiri versi semacam apa yang cocok dan anda praktikan sendiri.


GS Juli 2013

Jumat, 19 Juli 2013

Paradigma



“Lelaki yang Terus Mencari Sumbi”
Gagak Sandoro
Judul : Lelaki yang Terus Mencari Sumbi
Pengarang : Hermawan Aksan
Penerbit : Indie Book Corner
Jumlah Halaman : 138 halaman
ISBN : 978-602-9149-42-5


Hermawan Aksan, pria yang pernah mengenyam pendidikan di Institut Teknologi Bandung dan sekarang menjadi penjaga gawang (red: redaktur) di halaman sastra Tribun Jabar. Pria yang telah menjadi Tuhan bagi setiap karangannya ini, kumpulan cerpen 'Lelaki yang Terus Mencari Sumbi'. Kumcer ini berisikan tujuh belas cerpen yang pernah dimuat di media massa dalam kurun waktu 90-2000-an.

Diawal-awal judul dalam kumpulan cerpen ini, pengarang diibaratkan sebuah dalang yang menceritakan sebuah lakon beberapa kejadian di dunia ini. Lihat saja, pada cerpennya yang berjudul 'Yang Sakti Mandraguna' tengah menceritakan tokoh lelaki bernama Dasmin yang tergila-gila pada tokoh wayang Gatotkaca setelah ia menonton pagelaran wayang golek. Hermawan Aksan menuliskan sebuah kejujuran dalam cerita ini, tokoh Dasmin begitu empatik dan mempunyai kepercayaan lebih pada kekuatan benda mati – dalam cerita ini wayang golek Gatotkaca. Yang ajaibnya, terdapat banyak sekali seseorang yang seperti Dasmin, khususnya di negara ini.

'Lelaki yang Terus Mencari Sumbi' memang sebuah kumpulan cerita pendek yang tidak berkaitan di setiap cerita. Namun, ada beberapa judul yang mempunyai kemiripan cerita, yaitu; 'Candi', 'Candi Citoke' dan 'Embah Wirasuta'. Ketiga judul tersebut mempunyai cerita yang sederhana tentang dogma-dogma yang telah hinggap di masyarakat kita. Hermawan Aksan dengan piawai memainkan setiap tokohnya yang sederhana dan sedikit ambisius. Penulis juga tidak melupakan unsur cerita berupa  amanat, Hermawan Aksan menyiratkan amanat pada setiap judul di dalam kumpulan cerpen ini. Sebagai pembaca kita harus bisa menggali sendiri tujuan yang telah dilampirkan oleh penulis.

'Bus kota tak begitu penuh, mungkin hanya terisi setengahnya, ketika dua orang lelaki berpenampilan seram naik lewat pintu depan di halte Cibeunying. Yang pertama, mengenakan jaket hitam, lebih dulu menghampiri kursiku, yang memang kosong.' (Hal. 43) demikian kutipan di paragraf pertama cerpen berjudul 'Dua Lelaki di Bus Kota'. Cerita yang dimuat pada satu media massa pada tahun 2000 ini menceritakan tokoh aku yang tengah dilanda konflik batin di sebuah bus kota. Kemungkinan Hermawan Aksan mempunyai alasan tertentu ketika menuliskan cerita ini. Saat membacanya, kita akan merasakan ketakutan yang dilanda tokoh aku, mempunyai pikiran serta firasat buruk serta menyimpulkan kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja terjadi setelahnya. Dalam judul ini, penulis sengaja memberikan ritme cepat agar cerita tidak terkesan kaku dan monoton. 

Berbeda dengan judul-judul awal, penulis diibaratkan mendalang lakon tertentu. Beberapa judul cerita di akhir kumpulan cerita ini, Hermawan Aksan seperti bercerita pada koleganya di sebuah restoran. Mempunyai tempo lambat, berdiksi halus serta lembut dan lebih banyak alur mundur. Salah satunya cerita yang dijadikan judul kumpulan cerpen ini, Lelaki yang Terus Mencari Sumbi. Cerpen yang begitu lembut, penuh perasaan dan mengulang sejarah yang tidak pernah selesai.

“Sunyi dini hari retak oleh telapak sepatunya yang berkeletak memukul-mukul lapisan beton gang kompleks perumahan. Seakan muncul dari tempat yang entah, mula-mula lirih, seperti ketukan ujung kuku di tembok batu. Makin lama makin nyaring, mengingatkanku pada ladam yang menghantam-hantam aspal.” (hal 91)

Lelaki yang Terus Mencari Sumbi menyuguhkan dua hidangan yang berbeda. Pada judul awal, pembaca akan dipaksa membuka mata tentang sebuah kepercayaan turun-temurun. Namun di beberapa judul terakhir, penulis akan menanamkan sebuah cerita 'sebelum tidur' untuk dipikirkan serta dipikirkan kembali.


GS Juli 2013

Sabtu, 13 Juli 2013

Gemerlap Selalu Ada di Hatimu


“Kira-Kira”
Gagak Sandoro
Judul : Kira-Kira
Penulis : Cynthia Kadohata
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama (GPU)
Halaman : 200 halaman
ISBN : 978-979-22-4307-9

“Kakakku, Lynn, mengajariku kata pertamaku: kira-kira. Aku mengucapkannya ka-a-ahhh, tapi ia tahu maksudku.” (hal. 9) itulah petikan yang kemudian saya ambil dari novel Kira-kira. Dalam bahasa Jepang kira-kira berarti gemerlap, maka, saya memberikan judul ‘Gemerlap Selalu Ada di Hatimu’ untuk resensi kali ini.

Sabtu, 06 Juli 2013

Lebih Ringan Dari Sekaleng Minuman


“Date Note”
Gagak Sandoro
Judul Buku : Date Note
Penulis : Haris Firmansyah
Jumlah Halaman : viii+180 halaman
Tahun terbit : Februari 2012
Penerbit : Bentang Belia
ISBN : 978-602-9397-09-3

Anggap saja saat membaca buku ini, kita sedang menikmati sekaleng minuman ringan. Ya, karena perasaan seperti itulah yang mungkin saja dihadirkan dari penulis bagi pembacanya. Perasaan sekali teguk yang begitu segar, menenangkan, dan melepaskan haus yang tersisa. Perasaan segar dari cinta-cinta gila masa lalu penulis, Haris Firmansyah.

Jumat, 28 Juni 2013

Kegelapan Yang Tersimpan di Dalam Hatimu

“Larutan Senja”
Gagak Sandoro

Judul Buku: Larutan Senja
Pengarang: Ratih Kumala
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (GPU)
Halaman: v+145 halamanISBN: 979-22-2029-1
Tahun Terbit: Maret 2006

Saat berbicara tentang sebuah keburukan, kebelengguan, keberanian ataupun ketidakberanian sekalipun seseorang masih berada di dalam dimensi warna yang sama. Abu-abu. Bukan hitam, apalagi putih. Itulah kesan yang ditonjolkan dalam kumpulan cerpen ini.

Gambar diambil dari google
Sebagai pembaca kita langsung disuguhkan sebuah cerita pertama yang kelam, 'Sang Paradji', kisah yang menceritakan dukun beranak bernama Paradji yang dituduh menyantet suami Nastiti. Berikut cuplikan cerita pertama dalam buku ini, “Mereka bersorak laksana pesta, menjadikan siksaan sebagai kesenangan. Paradji tersungkur, kepalanya dipaksa mencium tanah. Lehernya diinjak hingga tersedak. Rambutnya yang putih dan panjang ditarik. Ia sebenarnya hanya nenek tua yang renta.” (hal. 2)

Ketika kita telah berada di titik akhir cerita pertama dalam buku ini, 'Sang Paradji', akan terbekas ketakutan Nastiti dalam benak kita atas sumpah yang diucapkan Paradji sebelum ia mati dihunus pisau. “Nastiti seperti terikat, ia tidak bisa berbuat apa-apa. Seluruh tubuhnya mati rasa, tak bisa digerakkan … Nastiti sempat melihat tanda merah di dada Dasih.”(Hal. 8)

Entah bagaimana seorang perempuan bernama Ratih Kumala bisa bercerita dalam dua ruang yang berbeda, maksudnya, Ratih Kumala bisa menjadi pencerita yang maskulin dalam cerita berjudul 'Tahi Lalat di Punggung Istriku' dan 'Gin-Gin dari Singaraja'. Berbeda dengan cerita berjudul 'Anakku Terbang Laksana Burung' yang begitu feminim dan keibuan. Berikut cuplikan paragraf yang diambil dari cerita 'Anakku Terbang Laksana Burung', “Aku tahu, dengan nalarku sebagai seorang perempuan sekaligus seorang ibu, bahwa tubuhku telah menjadi dua. Ada benih yang telah dititipkan kepadaku, dan aku memeliharanya dalam rahimku, mengubahnya menjadi sarang serupa burung dalam peluk kasih sayang induk.” (hal. 108)

Dalam kumpulan cerpen ini, Ratih Kumala yang bertindak sebagai Tuhan bagi alur cerita yang ia buat  memberikan sebuah lukisan kehidupan pada pembaca. Yang terkadang, lukisan itu tergambar dengan jelas di sekitar kita. Bahkan di kanan-kiri kita. Cerita itu berjudul: 'Wanita Berwajah Penyok'. Berjudul nyentrik namun tidak senyentrik isi ceritanya. Saat membacanya, kita akan membayangkan sebuah perempuan disabilitas yang terpasung pada ruang sempit yang tak bisa disebut manusiawi tepat berada di depan kita. Amat menyedihkan. Setiap malam, ia selalu menunggu rembulan dari celah bilik tempat ia dipasung.

Ada hal yang berbeda, saat kita – sebagai pembaca – memperhatikan setiap dialog yang berada dalam buku ini. Tanda kutip dua yang menandakan dialog itu kesemuanya menghadap keluar. Kita ambil contoh pada halaman 70,
”Benar Adik bertemu Kadek di bis?” tanyanya.
Saya tidak berasumsi kalau ini adalah sebuah kesalahan tanda baca yang luput di eksekusi oleh editor, namun kesengajaan Ratih Kumala sebagai penulisnya sendiri karena hampir keseluruhan mengalami hal yang sama. Tapi masalah terjadi lagi di cerita berjudul 'Pada Sebuah Gang Buntu' dibagian epilog tanda kutip dua tertulis dengan benar, menimbulkan kesan ketidakkonsisten sang pengarang.

Hal yang menarik dalam kumpulan cerita ini terdapat gambar ilustrasi di setiap cerita. Memberikan  kesan pertama sebelum benar-benar dihadapkan pada cerita yang sebenarnya.s
Terakhir, Ratih Kumala mampu mengantarkan imajinasi liarnya pada pembaca. Membuka sebuaah dunia baru miliknya yang tak pernah dipikirkan oleh pengarang lain melalui kumpulan cerpen ini.

GS Juni 2013


Rabu, 12 Juni 2013

KISAH KELAM YANG MURAM


Gagak Sandoro












Judul Buku      : Kisah Muram Di Restoran Cepat Saji
Penulis             : Bamby Cahyadi
Halaman          : 152 Halaman
Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama (GPU)
Tahun terbit     : Cetakan pertama, Desember 2012
ISBN               : 978-979-22-9080-6

“Nama tokoh dalam cerita ini, Adimas. Seorang pemuda berwajah tampan, tapi berkantong tipis. Ia, telah dua tahun bekerja sebagai kasir di restoran cepat saji jaringan internasional ini. Semula ia masuk sebagai karyawan magang. Nyambi kerja sambil kuliah, agar terlihat keren di mata teman-teman kampusnya.” (hal 41) demikian kutipan cerita yang dijadikan judul dalam kumpulan cerpen ini.
Bamby Cahyadi saya ibaratkan sebagai seorang koki restoran yang kerap mendapatkan hujatan pun pujian dari setiap masakan yang ia buat, termasuk dalam kumpulan cerita ini berkisah tentang kemuraman dan kesenangan dari setiap tokoh rekaan yang ia buat. Entah sengaja atau tidak, kesemua cerita ini begitu realis dan bisa terjadi di antara kita semua. Sungguh sangat berlainan dengan koleganya, Sungging Raga, yang di mana Sungging Raga mempunyai aliran surealis pada setiap cerita yang ia buat.
Namun, ada sesuatu yang berbeda yang ditonjolkan dalam kumpulan cerita ini. Sisi muram, kegelisahan, kesedihan, kegamangan di setiap judul cerita di dalamnya. Salah satunya cerita pertama yang tersuguhkan dalam kumpulan cerpen ini, menceritakan tentang sepasang suami-istri yang menyesal tidak memperbaiki boneka bayi kesayangan anaknya. Mereka menyesal tidak memperbaiki boneka anak satu-satunya sebelum ia pergi ke dimensi yang berbeda. Suami dan istri ini selalu merasakan kegamangan dan kesendirian setiap harinya. Berikut adalah petikan ceritanya, “Istriku sedang duduk termenung di kursi teras sambil memeluk boneka kesayangan Riri. Begitulah pekerjaannya tiap petang. Lantas aku bergabung dengannya, duduk-duduk melamun mengenang Riri sambil berlinang-linang air mata, aku pun menangis bersama istriku.” (hal. 1)
Cerita yang berjudul ‘Aku Bercerita dari Pesawat yang Sedang Terbang’ serta ‘Tentang Mayat yang Sedang Tersenyum’ merupakan dua cerita yang masih saling berelasi. Menceritakan Ayahnya yang mati karena tokoh utama terlambat pulang sekolah.
‘Angka Sepuluh’ cerita kesembilan yang tersuguhkan dalam kumpulan cerita ini mengantarkan pembaca untuk melihat sebuah cermin kehidupan pengacara kaya yang menyukai angka 9. Cerita ini begitu singkat namun mengalir apik dengan keserhanaan diksi yang Bamby Cahyadi buat.
Cerita lain yang sangat menggelitik berada pada judul ‘Obsesi’ menyajikan kisah Awang Darmawan, siswa pintar dan aktif namun berobsesi untuk menjadi koruptor. “Seperti juga teman-temanku, yang bercita-cita menjadi dokter, insinyur, polisi, tentara, wartawan atau bahkan presiden. Mereka belajar dengan giat agar cita-citanya tercapai. Begitu pun denganku.” Merupakan salah satu petikan yang akan membuat Anda ingin menyelesaikan cerita ini hingga titik terakhir.
Terakhir, kumpulan cerpen yang berisi 15 cerita yang mengajarkan kita kesederhanaan tokoh rekaan setiap cerita ini patut untuk menjadi daftar bacaan Anda. Dengan harapan, agar pembaca tidak mengalami perbuatan yang sama dengan cerita yang berada di dalam cerita ini.


GS Juni 2013

Jumat, 19 April 2013




Judul buku      : Blueberish
Pengarang       : Ragil FA
ISBN               : 978-602-98532-7-8
Penerbit           : Indie Book Corner
Halaman          : 147 halaman

           
“Teman itu bukan dinilai dari tangannya, tapi mengapa aku menjadikanmu seorang teman”, ya, itulah salah satu kata manis yang saya kutip pada dialog di halaman 13. Seperti logline dalam novel ini, cerita di dalamnya pun amasih berkutat dengan dunia percintaan. Namun pengarang mencoba keluar dari sudut pandang orang kebanyakan. Bagaimana kalau cinta itu muncul pada teman kita sendiri? Ya, memang bisa dan itu wajar. Tapi pertanyaan lain datang, bagaimana kalau teman sesama jenis? Ya, bisa saja.
            Tuhan menciptakan rasa cinta, kasih dan sayang hanya untuk manusia. Tugas manusia hanya menunggu cinta itu kapan datang, kapan bersemi dan akhirnya kapan hilang kembali. Tuhan menciptakan cinta secara utuh. Namun, tidak setiap manusia untuk bisa mendapatkannya.
            Itulah yang terjadi pada alur cerita di dalamnya. Saat membaca novel ini, kita akan disuguhkan pada bahasa indah, puitis dan membuai. Namun, dari situ pula kelemahan datang. Dengan adanya bahasa yang indah dengan segala perumpaan yang ada, kita kerapkali dibuat mengerutkan kening. Atau bisa saja mengulangi bacaan beberapa kali untuk bisa mengerti apa maksud dari kalimat yang disampaikan sang pengarang.
            Setting yang terjadi pada novel ini terdapat di sebuah pesantren. Asumsi saya, pengarang masih belum mendalami dunia kepesantrenan atau masih mengalami riset yang terkesan “mentah”. Kenapa saya berkata demikian, dalam beberapa bab, setting yang terjadi seperti sebuah tempelan. Saya pernah berpikir kalau setting itu diubah menjadi sebuah sekolah, masjid, langgar atau pun rumah sekali pun tidak  akan mengalami perubahan yang berarti. Pembaca masih mengerti tujuan dari novel ini.
            Bagaimana dengan masalah konflik? Sama halnya setting. Konflik di sini terlalu memblur. Tidak ada konflik yang memuncak. Di novel ini hanya terdapat konflik batin pada setiap tokoh. Membuat pembaca seperti melihat adegan yang terpotong. Itu saja.
            Menurut saya, kekurangan yang begitu mencolok adalah sudut pandang pencerita. Di satu bab, pengarang menuliskan POV ke-1. Namun di bab yang lain pengarang membuat POV menjadi ke-3. Memang hal itu sah-sah saja tapi memasukan dua sudut pandang pencerita yang berbeda dalam satu karangan butuh keahlian khusus. Kekurangan kedua berada di karakter setiap tokohnya yang masih terlihat begitu lemah. Menurut pertimbangan saya unsur kausalitas(sebab-akibat) masih di abaikan dalam novel ini. Perubahan karakter setiap tokoh terjadi begitu dinamis dan terkesan cepat. Satu hal lagi, mungkin karena dampak perubahan POV pada setiap bab, kita akan dibuat lupa mengenali tokoh-tokohnya.
            Well, berkenaan masalah amanat, novel ini banyak sekali amanat tersirat tentang cinta yang universal. Cinta yang terkadang di luar logika manusia. Dan untuk para pembaca yang ingin menambah kosa kata dapat membaca novel ini dengan segala perumpaan yang dituturkan secara manis. Atau ingin membuat suasana cerita dengan literer di sini terdapat beberapa contoh yang bisa di pelajari. Itu.
18 April 2013.

Kamis, 17 Mei 2012

Resensi buku “8 Hari di negeri Pamah Ho”


Add caption
Pengarang : Lucy
Penerbit : Leutika Publisher
Tahun terbit : Maret 2010
Jumlah halaman : iv+ 174 lembar
ISBN/EAN : 9786028597319
            Buku yang berisi catatan perjalan selama solo traveling di negeri Paman Ho, Vietnam besutan Lucy. Kisah nyata yang berbagi pengalaman selama di sana. Berbagai kisah unik dan menarik tertuang di buku ini. Di buku ini pun menggunakan bahasa yang lebih dari ringan sehingga enak sekali dalam sekali baca yang membuat kepala tidak terasa pusing dengan bahasa yang terlalu ribet.
            Perjalanan yang berawal dari promosi sebuah maskapai yang membuka jalur penerbangan Jakarta-Ho Chi Minh City hingga penginapan di bungalow yang terasa romantis di kala malam serta banyak lagi tempat yang dikunjungi dalam buku ini. Serta, di dalamnya juga ada beberapa tips dan rekomendasi tempat belanja maupun tempat wisata yang eksotis.
            Di lengkapi dengan banyolan dari sang penulis membuat buku terasa ini segar sekali untuk mendapatkan kesenangan baru bagi para traveller yang ingin icip-icip ke negeri Paman Ho yang di segani ini. Buku ini cocok untuk panduan sang backpacker ataupun yang hanya ingin tahu seluk beluk keindahan negara Vietnam.
           

Resensi buku “Bye-bye Patah Hati!”



Pengarang : Fanayun
Penerbit : Easymedia
Tahun terbit : Juli 2010
Jumlah halaman : xii + 182 halaman
ISBN/EAN : 9786029707823
Dalam dunia ini Tuhan selalu menciptakan berpasangan yaitu, pertemuan dan perpisahan. Tapi bagaimana jika yang terjadi adalah perpisahan dengan pacar. Pacar yang selalu membuat kita bahagia setiap harinya, bisa membuat senyum sendiri ataupun seseorang yang selalu kita pikirkan setiap saat. Pasti patah hati, bukan?
Buku besutan Fanayun yang berjudul “Bye-bye Patah Hati” ini mengulas tentang bagaimana caranya untuk bisa sembuh dari penyakit bernama patah hati. Buku yang termasuk dalam jenis nonfiksi populer ditambah gaya bahasa yang mudah meresap, membaca buku ini seperti mendengarkan sebuah curhatan seorang teman.
Buku yang berisi empat sub judul di tambah beberapa kategori yang berawal apa itu patah hati dan diakhirkan cara mengobati patah hati, disusun dengan cara apik dan teratur. Dalam buku ini terdapat definisi, penyebab, tindakan setelah putus dan ditambah dengan percikan cerita mini yang membuat komposisi buku ini sangat layak untuk dibaca.
Kekurangan dalam buku ini adalah bahasa yang terlalu “feminim”. Kita ketahui patah hati bisa menyerang siapa saja. Baik itu remaja, dewasa, orang tua, laki-laki ataupun perempuan. Satu keganjilan yang mencolok dari segi bahasa yang menyebutkan bahwa perempuan saja yang selalu diungkit selalu terkena patah hati. Dan penambahan covernya pun menguatkan pernyataan bahwa buku ini khusus untuk dibaca oleh perempuan saja. Tapi kenyataannya buku ini bisa dibaca untuk semua kalangan. Terlepas dari semua itu buku ini sangat membantu untuk para insan yang sedang mengalami patah hati dan mencoba untuk melupakan sang mantan yang telah memberi warna pada kehidupan kita pada tempo lalu.

Jumat, 11 Mei 2012

RESENSI “PROF. BRONTOSAURUS”




Judul: Prof. Brontosaurus (hari-hari seorang dokter hewan)
Pengarang: Subronto
Penerbit: Leutika
Tanggal terbit: Februari 2010
Jumlah halaman: 144
ISBN/EAN: 978-602-8597-17-3

Berisi tentang catatan perjalanan menjadi seorang dokter hewan selama kurang lebih 40 tahun. Namun, walaupun buku ini termasuk jenis non fiksi, juga melebihkan beberapa kelebihan yang di tulis oleh dosen FKH Univ. Gajah mada, Prof. Subronto.
Dengan bahasa yang tidak bikin pembaca menjadi pusing. Disertai jumlah halaman yang tidak terlalu banyak, merupakan kelebihan utama agar pembaca tidak cepat jenuh maupun bosan membaca buku ini.
Perjalanan menjadi dokter hewan di kupas dengan sangat seru. Menangani penyakit yang di derita oleh hewan di tangani dengan gamblang di tambah dengan ciri-ciri, penyebab dan foto dukumen yang ditampilkan. Menjadi terlihat membaca note kecil untuk travel.
Penulis yang merupakan guru di FKH UGM ini juga menampilkan beberapa penemuan sederhana: penyembuhan pembengkakan dengan dada srep yang cocok digunakan untuk hewan dan manusia.
Yang dikupas selain itu, juga adanya pencatuman tingkatan jika ingin kuliah di luar negeri khususnya Amerika Serikat. Memang terlihat nyeleneh dengan pencatuman pada sub judul ini. Tapi ini bukan satu-satunya, masih ada riwayat rumput raja, pidatonya saat seminar dan riwayat tentang berdirinya rumah sakit hewan yang di letakkan di halaman-halaman akhir. Pencatuman seperti ini, membuat tidak sinkron antara sub judul awal dan akhir. Juga, membuat pembaca menjadi semakin garuk-garuk kepala untuk ini.
Tidak ada gading yang tidak retak. Itulah ungkapan yang pas untuk buku ini. Dan pembaca semua yang ingin belajar sedikit ilmu kedokteran hewan bisa dengan membaca buku ini. Walaupun banyak terdapat kata-kata asing tapi pembaca yang awam tidak perlu khawatir, buku ini juga di lengkapi dengan glosrium untuk memudahkan penafsiran pembaca.